Episodic Journal

Iwan Njoto Sandjaja

Alone With God Is Not Lonely

| Comments

Sendiri bersama Tuhan Tidaklah Sendirian

Reflection of Alone with God in Renovation of The Heart
Refleksi dari Sendiri bersama Tuhan dalam Renovasi Hati

Ketika mulai kulayangkan pandanganku ke sekelilingku, tak pernah kulihat alam begitu berdamai denganku, seolah-olah menjadi sahabatku. Hiruk pikuk Surabaya, suara klakson yang tidak bersahabat membuatku lupa bahwa alam bisa begitu bersahabat. Suara kicau burung yang bersahut-sahutan, suara jangkrik, gemericik air dan suara pohon cemara yang ditiup angin sepoi-sepoi membentuk nyanyian alam yang begitu harmoni dengan nada-nada yang tidak pernah bisa dihasilkan alat musik buatan manusia.

Dalam kerutinan mengajar, koreksi hasil ujian, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat, serta kesibukan rutin lainnya, seringkali kumerasa kesepian dan sendirian. Sering kubertanya apakah yang kulakukan ini berarti? Apakah arti semua pengorbanan yang kulakukan? Apakah ini membawaku semakin dekat dengan visiku? Visi untuk memiliki integrasi dan integritas. Integrasi antara iman dan ilmu. Integritas dari apa yang kulakukan dengan apa yang kukatakan. Sebuah visi yang begitu besar, yang tidak mungkin dilakukan oleh kekuatan manusia saja.

Alam, tumbuhan dan binatang bisa menjadi sahabatku, masih aku merasa tidak puas dan belum menemukan makna yang sejati. Jika kuberpuas dan berhenti dengan alam, tumbuhan dan binatang saja, apakah bedaku dengan gerakan zaman baru yang mengatakan alam itu juga allah dan film-film Hollywood yang membuat binatang seperti manusia dan manusia seperti binatang, Aku mulai melanjutkan perenunganku lagi mengenai kesendirian.

Aku mulai melayangkan pandanganku kepada sesamaku, rekan-rekan kerjaku yang juga merenung, sendiri dengan Tuhan. Tak pernah kubayangkan, predestinasi bisa membuatku tidak sendirian dan kesepian. Predestinasi, seperti Tuhan yang sudah menetapkan tanah perjanjian bagi Israel (Bilangan 13), adalah penetapan dan pilihan Tuhan terhadap orang-orang yang diselamatkan. Predestinasi memberikan kepastian dan makna buat semua yang kukerjakan tidak akan sia-sia. Predestinasi juga membuatku terhubung dengan orang-orang pilihan Allah lainnya. Kita seolah-olah terikat oleh tali yang tidak kelihatan. Sejumlah kecil rekan-rekan dosen yang merupakan sisa-sisa orang yang masih mencari kebenaran dan setia memberitakan kebenaran. Meski ada beberapa yang baru kukenal, bahkan berbeda suku dan ras, namun mereka adalah teman-temanku yang membuatku tidak merasa kesepian dan sendiri lagi. Aku ingat sekali Elia pernah stress sampai mau bunuh diri gara-gara rasa kesepian dan menganggap dia saja yang berbakti kepada Allah yang benar dan berjuang melawan tantangan jamannya (I Raja-raja 19). Elia lupa bahwa masih ada orang-orang lain yang juga berjuang bersama.

Namun, sekali lagi aku tidak berpuas dengan sahabat perjuanganku. Aku teringat akan pergumulan Abraham ketika harus mengorbankan anaknya yang tunggal (Kej 22). Apakah Abraham memberitahukan pergumulan dengan istrinya, Sara? Ada masa-masa pergumulan di mana rekan-rekanku bahkan pasangan hidup yang terdekatpun tidak bisa mengambil bagian dalam pergumulan. Di sini, aku melihat seorang sahabat lagi yang Tuhan berikan, yaitu diriku sendiri. Abraham mungkin sekali banyak melakukan percakapan dengan diri sendiri. Melalui percakapan dengan diri sendiri, refleksi atas pengalaman pekerjaan Tuhan dalam hidupku, firman yang telah kudengar dan kubaca, aku bisa menemukan arti hidupku dan tidak begitu kesepian.

Namun sekali lagi, hanya dengan diri sendiri saja tidak bisa memuaskan dan melepaskan diriku dari kesepian dan kesendirian. Aku melihat Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal juga mengalami sebuah kesepian dan kesendirian. Bahkan Yesus Kristus mengalami kesendirian dan kesepian yang paling puncak dan total di tempat yang paling tersendiri dan tersepi yaitu salib. Yesus ditolak oleh alam, manusia, dirinya sendiri bahkan Allah Bapa karena menanggung dosa kita di kayu salib. Bagaimanakah aku bisa mengerti kesepian dan kesendirian yang total dan mutlak semacam ini? Namun, karena Kristus sudah menanggung kesendirian dan kesepian yang total dan mutlak ini di tempat yang paling sepi dan tersendiri, kita tidak pernah lagi mengalami kesendirian dan kesepian total dan mutlak.

Kesepian dan kesendirian yang kita alami adalah kesepian dan kesendirian bersama dengan Allah. Dia adalah Allah yang berjanji untuk selalu menyertai kita. Sama seperti Abraham dalam pergumulannya dia tidak sendiri, demikian juga kita dalam kesendiran dan kesepian kita masih ada Allah yang menyertai dan Allah yang menyediakan. Ketika kita melihat alam, rekan-rekan sekerja, orang-orang yang kita layani, diri kita sendiri, kita bisa melihat Allah Pencipta itu semua dan kasihNya yang menyertai kita senantiasa. Kita semakin sadar pertolongan kita hanya datang dari (Allah Mazmur 121). Hanya Allah yang (bisa) kuandalkan. Immanuel.

Comments