Episodic Journal

Iwan Njoto Sandjaja

Rengasdengklok Dalam Alkitab

| Comments

Tidakkah anda pernah mengamati kemiripan sejarah bangsa Israel dengan sejarah bangsa kita Indonesia? Bangsa Israel adalah bangsa yang terjajah oleh Babilonia, Romawi. Begitu juga dengan bangsa kita yang terjajah oleh Belanda dan Jepang.

Indonesia mengenal ramalan Jayabaya, Ratu Adil. Bangsa Israel mempunyai nubuatan mengenai Mesias, Yang Diurapi, Sang Pembebas. Baik bangsa Israel maupun Indonesia yang sekian lama terjajah mengharapkan kemerdekaan, pembebasan dari penjajahan. Konsep mengenai Ratu Adil adalah konsep yang mirip dengan kedatangan Mesias yang akan memulihkan kerajaan yang terjajah.

Tidakkah peristiwa Minggu Palma dimana Yesus diarak masuk Bait Suci merupakan peristiwa yang mirip dengan proklamasi kemerdekaan bangsa kita? Pernahkan anda tahu bahwa peristiwa Rengasdengklok juga terjadi dalam Alkitab? Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan Sukarno-Hatta oleh mahasiswa untuk mempersiapkan Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hal yang sama terjadi dalam bangsa Israel atau Yahudi.

Mereka berabad-abad dalam penjajahan. Mereka menantikan Mesias yang akan memulihkan keadaan bangsa mereka seperti jaman keemasan Raja Daud dan Salomo. Ketika Yesus hadir dan berkarya dengan berbagai pengajaran yang memukau, kuasa yang hebat, mujizat yang terjadi, sebagian besar bangsa Yahudi mulai melihat Yesus sebagai Mesias. Dalam bayangan mereka, Yesus merupakan orang yang sangat tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Israel. Yesus menjadi presiden pertama mereka. Presiden yang bisa menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati. Presiden yang mampu memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan. Presiden yang berkuasa atas badai dan cuaca. Harapan berjuta-juta rakyat melambung tinggi.

Tidaklah heran jika orang banyak (rakyat) ingin menculik Yesus, membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja. Inilah peristiwa Renggasdengklok dalam Alkitab. Yohanes 6:15. Namun sayangnya tidak seperti Sukarno-Hatta, Yesus menolak harapan orang banyak (rakyat) itu.

Namun harapan dari sebagian besar bangsa Israel melambung tinggi ketika Minggu Palma. Yesus masuk Yerusalem mengendarai keledai muda menggenapi nubuatan. Matius 21:1-13. Menurut analisa saya, bangsa Israel bersorak-sorai, karena Yesus, pemuda yang selama ini menolak menjadi raja mereka, Mesias mereka, akhirnya memenuhi harapan orang banyak. Tidaklah heran jika orang banyak mengelu-elukan Yesus dan berteriak “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Mereka mengharapkan Yesus masuk ke Yerusalem, ke Bait Suci dan memplokamirkan kemerdekaan bangsa Israel/Yahudi. Sayangnya Yesus tidak memenuhi harapan mereka. IA menuju ke bait suci. Alih-alih memproklamasikan kemerdekaan bangsa Yahudi, Yesus malah marah besar dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. IA membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati. Yesus menghancurkan harapan orang banyak.

Dalam lima hari kemudian pekikan Hosana bagi Anak Daud berubah menjadi Salibkan Dia. Perilaku mengelu-elukan sang Raja berubah menjadi kebencian massa yang begitu hebat sehingga dari mulut yang sama keluar kata-kata Salibkan Dia. Kenapa Yesus melakukan hal ini? Karena Yesus memiliki visi yang lebih besar dari sekedar memulihkan kerajaan Israel. VisiNya ialah menegakkan kerajaan Allah di dunia. Tidak sekadar kerajaan Israel. Para murid dan orang banyak mengkerdilkan tujuan Allah yang besar dan global.

Apakah kita melakukan yang sama? Apakah sejarah bangsa Israel berulang dalam sejarah hidup kita? Apakah kita yang pernah mengelu-elukan Yesus sebagai Raja, juga berkata Salibkan Dia ketika harapan kita hancur dan tidak dipenuhi? Ketika visi kita yang kerdil tidak sejalan dengan visiNya yang besar dan mulia?

Comments